Pola asuh ibu yang depresi terkait dengan stres pada balita

Anak-anak prasekolah yang orang tuanya mengalami depresi lebih mudah stres dibandingkan anak-anak dengan orang tua yang sehat, namun hanya jika ibu mereka memiliki gaya pengasuhan yang negatif, menurut sebuah penelitian baru.

Penelitian yang akan dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science edisi mendatang ini memiliki tingkatan hormon stres kortisol dalam air liur anak-anak setelah pengalaman stres ringan, seperti berinteraksi dengan orang asing. Para peneliti menemukan bahwa lonjakan kortisol lebih ekstrim terjadi pada anak-anak yang orang tuanya memiliki riwayat depresi dan juga menunjukkan gaya pengasuhan yang kritis dan mudah frustrasi.

β€œIni sebenarnya sangat penuh harapan karena jika kita fokus pada pengasuhan anak, kita benar-benar dapat melakukan intervensi sejak dini dan membantu orang tua yang menderita depresi kronis ketika mereka memiliki anak,” kata penulis studi Lea Dougherty, seorang psikolog di Universitas Maryland, dalam sebuah pernyataan.

Orang asing yang stres
Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa orang dengan depresi sering kali memiliki lonjakan kortisol yang tidak normal sebagai respons terhadap stres. Hal ini menunjukkan bahwa masalah pada sistem pengaturan stres tubuh merupakan faktor risiko – atau setidaknya ciri – depresi. Beberapa penelitian menemukan respons abnormal ini terjadi pada bayi yang masih sangat kecil dari ibu yang mengalami depresi, yang dapat berarti bahwa sistem tersebut terganggu baik di dalam rahim atau di awal kehidupannya.

Namun sulit untuk mengetahui pengaruh awal terhadap sistem hormon stres tubuh. Genetika mungkin salah satu penyebabnya, tulis Dougherty dan rekan-rekannya. Perubahan tersebut bisa timbul akibat pengaruh biokimia di dalam rahim atau akibat cara hidup ibu yang depresi berinteraksi dengan bayinya. Kemungkinan besar ini merupakan kombinasi dari semua faktor ini.

Untuk mengetahui apakah gaya pengasuhan itu penting, para peneliti merekrut 160 anak berusia 3 dan 4 tahun serta orang tua mereka. Separuh dari anak-anak tersebut adalah laki-laki dan separuh lagi perempuan, dan sebagian besar berkulit putih dan kelas menengah.

Pertama, para peneliti mengevaluasi ibu dan ayah untuk a riwayat depresi. Selanjutnya, mereka menjadwalkan dua kali kunjungan laboratorium untuk orang tua dan anak. Pada salah satu interaksi, orang tua bermain dengan anak tersebut sementara para peneliti mengamati interaksi untuk mencari tanda-tanda kritik, frustrasi, dan kemarahan di pihak orang tua. Dalam 96 persen kasus, ibu lah yang membawa anaknya ke laboratorium, sehingga peneliti hanya mengumpulkan sedikit data mengenai hal ini. interaksi ayah-anak.

Selama kunjungan laboratorium lainnya, anak tersebut memainkan berbagai permainan menyenangkan dengan seorang pelaku eksperimen, diselingi dengan beberapa aktivitas yang dirancang untuk menimbulkan stres dan frustrasi. Dalam salah satu kegiatan, pelaku eksperimen meninggalkan ruangan dan seorang laki-laki dewasa asing masuk untuk berbicara dengan anak tersebut. Di kasus lain, pelaku eksperimen memberi anak tersebut sebuah kotak transparan terkunci yang berisi mainan di dalamnya, bersama dengan kunci yang tidak cocok dengan gemboknya. Aktivitas terakhir yang memicu stres adalah menjanjikan hadiah kepada anak, namun malah memberinya kotak kosong.

Setelah setiap pengalaman yang membuat stres, perasaan anak menjadi tenang, kata Dougherty.

“Setelah semua ini, kamu masuk lagi, dan kamu seperti, ‘Ya Tuhan, aku lupa hadiahnya! Ini dia,'” katanya. “Semuanya sudah diperbaiki.”

Selama percobaan, para peneliti menggunakan usapan pipi untuk mengukur kadar kortisol anak-anak. Lebih banyak kortisol menunjukkan tingkat stres yang lebih tinggi.

Lonjakan kortisol dan gaya pengasuhan
Hanya saja memiliki orang tua yang mengalami depresi tidak membuat anak lebih rentan terhadap lonjakan kortisol, namun memiliki ibu yang mengalami depresi a gaya pengasuhan yang bermusuhan Selesai. Penelitian ini hanyalah gambaran singkat mengenai respons terhadap stres, sehingga para peneliti tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa pola asuh yang tidak bersahabat dari orang tua yang mengalami depresi menyebabkan lonjakan tersebut, hanya saja ada korelasinya.

Studi jangka panjang diperlukan untuk membangun hubungan sebab dan akibat, tulis para peneliti. Penelitian ini juga melibatkan beberapa ayah yang depresi, sehingga hubungan antara depresi ayah dan stres pada anak masih belum tereksplorasi.

Meskipun demikian, temuan ini penting, tulis para peneliti, karena stres dini merupakan faktor risiko depresi di kemudian hari. Jika gaya pengasuhan anak berinteraksi dengan pengaruh genetik dan lingkungan lainnya yang menyebabkan stres pada anak meningkat, pengobatan dini dapat membantu, kata Dougherty. Membantu orang tua berinteraksi secara positif dengan anak-anak mereka mungkin sangat penting di awal kehidupan, tulis para peneliti, karena sistem pengaturan stres masih berkembang.

* 11 fakta yang harus diketahui setiap orang tua tentang otak bayinya
* 10 hal yang tidak Anda ketahui tentang Anda
* Bayi di negara-negara perbatasan memiliki nama yang lebih tidak biasa

taruhan bola