Virus MERS yang mematikan jarang menyebar dari unta ke manusia

Banyak unta di Arab Saudi yang terinfeksi virus yang menyebabkan sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS), namun virus tersebut jarang menyebar dari hewan ke manusia, menurut sebuah studi baru.

Virus MERS pertama kali muncul pada tahun 2012 dan menyebabkan penyakit pernafasan yang telah membunuh 30 persen orang yang terinfeksi, namun virus ini belum dipahami dengan baik.

Dalam studi baru ini, para peneliti menguji darah dari 45 orang yang terpapar unta di Arab Saudi, termasuk 12 orang yang melakukan kontak langsung dengan kawanan unta dromedaris (berpunuk satu) sementara beberapa hewan tersebut terinfeksi MERS. Ke-12 peserta ini telah berulang kali melakukan kontak dengan unta yang terinfeksi selama lebih dari sebulan. Misalnya, mereka memberi makan dan merawat unta, dan dalam beberapa kasus, mereka meminum susu dari hewan yang terinfeksi. Para peneliti juga menganalisis darah dari 146 orang yang tinggal di wilayah yang sama tetapi tidak bekerja dengan unta.

Tak satu pun dari orang-orang dalam penelitian ini memiliki antibodi terhadap MERS dalam darahnya, yang berarti kecil kemungkinan mereka pernah terinfeksi MERS di masa lalu. (8 Hal yang perlu Anda ketahui tentang MERS)

Para peneliti menyimpulkan bahwa virus MERS “tidak mudah menular dari dromedaris ke manusia dengan tingkat paparan yang berbeda-beda terhadap kawanan dromedaris yang terinfeksi ini.”

Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa meski jarang, unta masih mungkin menularkan MERS ke manusia. Mungkin virus ini lebih umum menyebar dari unta ke manusia “di tempat lain di mana manusia terpapar hewan dalam waktu lama yang prevalensi virusnya lebih tinggi,” tulis para peneliti dalam temuan mereka.

Faktanya, penelitian yang diterbitkan Juni lalu memberikan bukti kuat bahwa seorang pria berusia 44 tahun asal Arab Saudi tertular MERS dari salah satu unta miliknya. Para peneliti menemukan bahwa pria dan untanya terinfeksi virus MERS yang secara genetik identik. Sekitar seminggu sebelum pria itu jatuh sakit, dia mengoleskan obat ke hidung unta yang terinfeksi.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa mayoritas unta dromedaris di Arab Saudi memiliki antibodi terhadap virus MERS.

Dalam studi baru tersebut, para peneliti menulis bahwa situasi MERS pada unta sama seperti flu burung (H5N1) yang terjadi di pasar unggas di Asia: Meskipun virus ini umum terjadi pada hewan, penularan pada manusia jarang terjadi dan dapat terjadi secara acak.

Penelitian di masa depan tentang bagaimana virus MERS menyebar dari unta ke manusia harus menyelidiki apakah beberapa orang lebih rentan terhadap infeksi tersebut dibandingkan yang lain, kata para peneliti.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di King Faisal University di Arab Saudi ini akan diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases edisi April.

Hak Cipta 2015 Ilmu Hidup, sebuah perusahaan TechMediaNetwork. Seluruh hak cipta. Materi ini tidak boleh dipublikasikan, disiarkan, ditulis ulang, atau didistribusikan ulang.

link sbobet