Bendungan jebol di dekat ibu kota Indonesia, menewaskan 77 orang
CIRENDEU, Indonesia – Tentara dan polisi menggali tumpukan lumpur dan puing pada hari Sabtu untuk mencari korban yang selamat setelah sebuah bendungan jebol di luar ibu kota Indonesia, menghancurkan ratusan rumah, menumbangkan pohon dan menewaskan sedikitnya 77 orang. Lebih dari 100 orang lainnya hilang dan dikhawatirkan tewas.
Hujan deras selama berhari-hari memenuhi danau besar yang membatasi kawasan pemukiman dataran rendah Cirendeu hingga mencapai tingkat banjir. Sebagian besar tanggul era kolonial Belanda jebol sebelum fajar pada hari Jumat, menyebabkan lebih dari 70 juta kaki kubik air mengalir melalui lubang yang menganga tersebut.
Beberapa warga mengaku serasa diterjang tsunami. Mereka menuduh pihak berwenang mengabaikan tanda-tanda peringatan dan gagal memperbaiki kerusakan bendungan, menuduh bahwa bendungan tersebut telah melemah di beberapa tempat selama bertahun-tahun akibat banjir sebelumnya yang disebabkan oleh meluapnya air yang tersumbat.
Ratusan orang berkumpul di dekat Universitas Muhammadiyah, yang digunakan sebagai kamar mayat darurat, dengan jenazah dibariskan di bawah kain batik, dan pusat gawat darurat, dengan pekerja medis merawat luka dan memar.
Klik di sini untuk melihat fotonya (Peringatan: Konten grafis)
Empat rumah sakit lapangan, yang didirikan untuk menampung korban luka yang lebih parah, dengan cepat meluap.
Jumlah korban tewas terus meningkat ketika ratusan tentara, polisi dan relawan menggali tanah dengan ekskavator, cangkul atau tangan kosong, terkadang terpaksa berhenti karena hujan lebat. Priyadi Kardono, juru bicara badan koordinasi bencana nasional, mengatakan sedikitnya 77 orang tewas.
“Kami telah mengevakuasi hampir seluruh korban selamat dari rumah mereka,” katanya. “Kami khawatir sebagian besar dari 102 orang yang dilaporkan hilang sudah meninggal.”
Anggota keluarga putus asa, tidak mau mempercayai kemungkinan terburuk.
“Di mana dia? Dimana dia?” seru Mulyani, 50, yang sedang mencari putrinya yang hilang, Pungky Andela.
Pelajar berusia 21 tahun tersebut pergi mengaji di sebuah rumah di kaki bendungan pada malam bencana dan memutuskan untuk tidur di sana karena cuaca yang buruk.
“Bagaimana dia bisa hilang?” keluh Mulyani, yang seperti kebanyakan orang Indonesia, hanya menggunakan satu nama.
Sebagian besar air surut pada hari Sabtu, menyebabkan jalan-jalan tertutup lumpur dan puing-puing. Mobil yang diparkir di jalan masuk tersapu ratusan meter dan berakhir di taman. Trotoar dipenuhi sandal, panci masak, dan foto-foto lama.
Beberapa warga menggambarkan suara gemuruh sekitar tengah malam ketika air mulai mengalir ke tepi bendungan setinggi 45 kaki. Mereka mengetuk tiang listrik dan panci masak untuk memperingatkan tetangga.
Bendungan yang dibangun pada tahun 1933 itu jebol beberapa jam kemudian.
“Kita harus mencari cara untuk merawat bendungan-bendungan peninggalan zaman Belanda ini dengan lebih baik,” kata Wahyu Hartono, mantan pejabat Kementerian Pekerjaan Umum, yang menyalahkan defisit anggaran sebagai penyebab bencana tersebut. “Kalau tidak, akan ada lebih banyak masalah seperti ini.”
Kesedihan dipenuhi dengan kemarahan pada hari Sabtu.
“Yang lebih parah lagi adalah pemerintah setempat tahu bahwa kondisinya tidak aman,” kata Mulyadi, yang kehilangan rumahnya. “Mengapa mereka tidak melakukan sesuatu?”
Kementerian Pekerjaan Umum mengatakan penyelidikan akan dilakukan.
Hujan musiman menyebabkan puluhan tanah longsor dan banjir bandang setiap tahun di Indonesia, negara berpenduduk 235 juta jiwa.