Imajinasi yang jelas dapat membentuk kenangan yang salah

Imajinasi yang jelas dapat membentuk kenangan yang salah

Kekuatan sugesti dapat mempermainkan ingatan dan meyakinkan orang bahwa ingatan palsu itu nyata, menurut para ahli di Northwestern University.

Meskipun kita mungkin berpikir bahwa ingatan kita adalah catatan kehidupan kita yang akurat, hal ini tidak selalu benar.

Ingatan kita pada awalnya tidak sempurna, dan kelupaan bukanlah satu-satunya kesalahan. Otak juga dapat diyakinkan bahwa peristiwa yang tidak pernah terjadi memang terjadi. Hal itulah yang terjadi dalam percobaan Northwestern baru-baru ini dengan 11 orang dewasa.

Tes ini dilakukan oleh para peneliti termasuk Brian Gonsalves, mantan departemen psikologi Northwestern dan sekarang menjadi rekan postdoctoral di Universitas Stanford.

Pertama, peserta ditempatkan pada perangkat magnetic resonance imaging (MRI), yang mengukur aktivitas otak selama suatu tugas. Para peneliti menunjukkan kepada mereka foto-foto atau meminta mereka untuk menghasilkan gambar visual dari objek yang tidak digambarkan; sebaliknya, mereka diberi petunjuk rinci untuk membangun gambaran visual.

Sementara itu, pemindaian pencitraan otak dilakukan untuk melihat area otak mana yang merespons selama tes.

Dua puluh menit setelah keluar dari mesin MRI, subjek mendengar rangkaian kata secara acak, termasuk 175 objek yang mereka lihat dalam gambar, 175 objek yang diminta untuk dibayangkan, dan 175 objek tidak ditampilkan atau tidak disebutkan.

Kadang-kadang peserta yakin bahwa mereka ingat pernah melihat gambar objek yang hanya mereka bayangkan secara visual selama fase studi percobaan.

Dengan kata lain, otak meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia melihat objek yang dibayangkan secara visual. Sejauh menyangkut otak, ingatan palsu itu benar.

Pemindaian pencitraan otak menunjukkan bahwa berbagai area otak bekerja dengan ingatan yang salah dan akurat.

Gambaran mental tersebut meninggalkan jejak di otak yang kemudian tertukar dengan jejak yang akan terbentuk jika objek tersebut benar-benar terlihat, kata para peneliti.

Aktivitas otak pada MRI selama fase penelitian dapat memprediksi objek mana yang kemudian akan diingat secara salah seperti yang terlihat dalam sebuah foto.

“Kami tahu bahwa kami bisa melupakan banyak hal, namun kami tidak selalu memahami gagasan bahwa ingatan kami terkadang bisa menyesatkan,” kata profesor psikologi Northwestern, Kenneth Paller, dalam siaran persnya.

Paller mengerjakan penelitian tersebut, yang muncul di jurnal Psychological Science edisi Oktober.

Oleh Miranda Hitti, direview oleh Brunilda Nazario, MD

SUMBER: Gonsalves, B. Ilmu Psikologi, Oktober 2004; jilid 15: hlm 655-660. Rilis berita, Universitas Northwestern.