Kabinet Indonesia yang baru terdiri dari reformis, pelanggar hak asasi manusia
JAKARTA, Indonesia – Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo mengumumkan kabinet baru pada hari Rabu, menempatkan seorang pensiunan jenderal yang terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia untuk bertanggung jawab atas keamanan dan mengembalikan seorang reformis populer ke kementerian keuangan.
Sri Mulyani Indrawati, yang menjabat Menteri Keuangan pada 2005-2010, kembali menjabat jabatannya saat ini sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, kata Jokowi. Pada masa jabatan pertamanya sebagai menteri keuangan, ia dipuji karena merombak departemen perpajakan yang korup dan membimbing perekonomian melalui krisis keuangan global tahun 2008.
Penunjukan tersebut merupakan sebuah kudeta bagi Jokowi dan upayanya untuk menghidupkan kembali perekonomian, namun dibayangi oleh sosok militer kontroversial yang juga bergabung dalam Kabinet.
Wiranto, panglima tentara Indonesia pada tahun 1999 ketika mereka melakukan kekejaman di Timor Timur setelah rakyat Timor memilih kemerdekaan, diangkat menjadi menteri keamanan, politik dan hukum. Wiranto dan anggota militer lainnya didakwa melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB pada tahun 2003, namun pemerintah Indonesia berturut-turut mengabaikan temuan tersebut.
Andreas Harsono, peneliti Indonesia di Human Rights Watch, mengatakan masuknya Wiranto ke dalam kabinet menunjukkan reaksi konservatif terhadap upaya Jokowi untuk mengatasi catatan buruk hak asasi manusia di Indonesia, termasuk pelanggaran di Papua, yang memiliki gerakan separatis yang sudah berlangsung lama, serta penyelidikan atas pembantaian anti-komunis yang dilakukan tentara pada tahun 1965.
Wiranto punya banyak barang bawaan, kata Harsono. “Saya pikir ini adalah kemunduran bagi Jokowi dan hak asasi manusia.”
Wiranto menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan, sekutu Jokowi yang, meskipun mantan jenderal, membuka simposium penting awal tahun ini mengenai kekejaman tahun 1965 yang menurut para sejarawan menewaskan setengah juta orang. Ia diperintahkan Jokowi untuk menyelidiki kuburan massal yang menurut para penyintas tersebar di seluruh Indonesia.
Pandjaitan menjadi Menteri Utama Urusan Maritim pada saat negara-negara Asia Tenggara sedang berselisih dengan Tiongkok mengenai ambisi teritorialnya di Laut Cina Selatan.
Ini adalah perombakan kabinet Jokowi yang kedua sejak politisi yang sulit didekati itu menjadi presiden pada tahun 2014, setelah mengalahkan calon negara bagian dalam pemilu nasional.
Sebanyak 13 kementerian telah berganti dan sembilan di antaranya merupakan menteri baru di Kabinet. Banyak dari penunjukan baru tersebut berada di kementerian terkait perekonomian, yang mencerminkan fokus Jokowi dalam mengembangkan perekonomian yang merupakan salah satu perekonomian terbesar di Asia namun memiliki infrastruktur yang buruk dan kemiskinan yang mengakar.
“Masalah kemiskinan harus kita selesaikan. Kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin, kesenjangan antar daerah harus kita perkecil,” kata Jokowi. “Perekonomian nasional harus kita perkuat, kita harus membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat.”
Tobias Basuki, seorang analis politik di Pusat Kajian Strategis dan Internasional di Jakarta, mengatakan kabinet baru adalah “sangat beragam” yang mencerminkan prioritas-prioritas yang saling bersinggungan, termasuk memberikan jabatan menteri kepada partai-partai politik yang bergabung dengan koalisi Jokowi di parlemen.
Beberapa politisi yang lebih progresif dan lebih muda dicopot dari kabinet, katanya, namun perombakan tersebut juga menyingkirkan menteri-menteri yang kinerjanya lebih buruk.
“Jokowi adalah presiden dan politikus yang pragmatis, jadi bukannya dia mengabaikan hak asasi manusia, tapi sekaligus itu bukan prinsip yang menentukan baginya, dia punya perhitungan pragmatis lain,” kata Basuki.
____
Ikuti Stephen Wright di @stephenwrightAP