Malaysia bersiap melakukan unjuk rasa untuk mengupayakan reformasi pemilu
KUALA LUMPUR, Malaysia – Pihak berwenang Malaysia pada hari Jumat menutup sebagian lapangan umum tempat para aktivis berencana mengadakan unjuk rasa menuntut transparansi lebih dalam pemilihan umum mendatang.
Ribuan orang diperkirakan berkumpul di dekat Lapangan Kemerdekaan Kuala Lumpur pada hari Sabtu untuk mengupayakan perubahan besar dalam peraturan pemungutan suara. Rencana unjuk rasa tersebut merupakan bagian dari upaya kelompok yang didukung oposisi untuk mengekang kekhawatiran akan adanya kecurangan dalam pemilu yang diperkirakan akan diadakan pada bulan Juni.
Diperkirakan 20.000 orang melakukan unjuk rasa pada bulan Juli untuk mengajukan tuntutan serupa. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstrasi tersebut dan menangkap sekitar 1.600 pengunjuk rasa.
Penyelenggara unjuk rasa hari Sabtu bersikeras bahwa daftar pendaftaran pemilih telah dirusak dan Komisi Pemilihan Umum bersifat bias. Mereka juga menginginkan adanya perubahan untuk memastikan bahwa warga negara yang tinggal di luar negeri dapat memberikan suara mereka, serta adanya pemantau pemilu internasional dan akses yang lebih adil bagi semua partai politik terhadap media yang terkait dengan pemerintah.
Perdana Menteri Najib Razak menegaskan bahwa undang-undang Malaysia saat ini sudah cukup untuk mencegah penyimpangan pemilu. Otoritas pemilu mengatakan tuduhan lain yang dilontarkan para aktivis tersebut tidak berdasar.
Pejabat kota memasang penghalang plastik dan baja di sekitar Lapangan Kemerdekaan pada hari Jumat setelah memperingatkan bahwa pengunjuk rasa belum memperoleh izin resmi untuk menggunakan area tersebut.
Menteri Dalam Negeri Hishammuddin Hussein mengatakan pada Kamis malam bahwa pemerintah siap mengizinkan unjuk rasa di “tempat yang pantas dan sah” untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum.
Para pejabat telah mengusulkan beberapa stadion untuk unjuk rasa tersebut, namun penyelenggara mengatakan sudah terlambat untuk mengubah lokasi.
Pihak penyelenggara telah bekerja sama dengan para pendukung dan kelompok hak asasi manusia di seluruh dunia untuk mengadakan protes skala kecil di kota-kota besar di Asia, Australia, Eropa dan Amerika Serikat pada hari Sabtu.
Rencana unjuk rasa ini terjadi di tengah spekulasi yang kuat bahwa Najib mungkin akan membubarkan Parlemen bulan depan dan mencari mandat baru pada bulan Juni, meskipun pemilu baru akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2013. Perdana menteri menolak untuk mengkonfirmasi rumor tersebut.
Front Nasional, yang memerintah Malaysia sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957, mengalami kinerja terburuknya pada pemilu tahun 2008, ketika mereka kehilangan lebih dari sepertiga kursi parlemen di tengah ketidakpuasan masyarakat atas masalah-masalah seperti korupsi dan diskriminasi rasial.