Parlemen atau PM? Mahkamah Agung Inggris akan memutuskan kasus Brexit
Pejalan kaki melintasi Jembatan Millennium saat kabut menyelimuti Katedral St Paul di London, Senin, 23 Januari 2017. Kabut dingin menyelimuti ibu kota pada hari Senin karena kondisi cuaca dingin yang terus berlanjut. (Foto AP/Kirsty Wigglesworth) (Pers Terkait)
LONDON – Mahkamah Agung Inggris akan memutuskan pada hari Selasa apakah perdana menteri atau parlemen mempunyai hak untuk memulai proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Kesebelas hakim tersebut akan mempertahankan keputusan sebelumnya yang memberikan Parlemen peran langsung dalam menerapkan Pasal 50 Perjanjian Lisabon UE atau menolak keputusan tersebut dan mendukung klaim pemerintah bahwa mereka dapat melakukan hal tersebut tanpa pemungutan suara di Parlemen.
Pasal 50, yang belum pernah digunakan sebelumnya, memulai proses formal untuk mengeluarkan Inggris dari blok UE yang beranggotakan 28 negara, sebuah langkah yang disukai oleh 52 persen pemilih dalam referendum bulan Juni yang menjungkirbalikkan politik Inggris.
Kasus Mahkamah Agung dianggap sebagai ujian konstitusional paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir karena kasus ini menjawab pertanyaan penting dalam hukum Inggris: garis pemisah antara kekuasaan Parlemen dan kekuasaan eksekutif.
Pemerintah mengatakan mereka dapat menggunakan “kekuasaan prerogatif” sejak Abad Pertengahan untuk memulai proses perceraian dengan UE, namun Pengadilan Tinggi memutuskan pada bulan November bahwa mereka tidak dapat bertindak tanpa pemungutan suara parlemen.
Berikut adalah jawaban atas beberapa pertanyaan kunci mengenai kasus ini.
___
MENGAPA INI SANGAT PENTING?
Perdana Menteri Theresa May berjanji akan memulai proses Pasal 50, yang diperkirakan akan memakan waktu dua tahun, pada akhir Maret. Para pemimpin Eropa ingin perundingan segera dimulai, dan beberapa pemilih Inggris yang mendukung Brexit semakin tidak sabar. Jika Parlemen berperan langsung, hal ini dapat menunda proses tersebut. Meskipun pemimpin oposisi Partai Buruh mengatakan anggota parlemennya akan mendukung Brexit untuk menghormati hasil referendum, proses tersebut dapat dengan mudah ditunda di House of Commons atau House of Lords.
___
APA YANG TERJADI JIKA PEMERINTAH KEHILANGAN APPELNYA?
Para menteri May telah menyiapkan berbagai rancangan undang-undang yang dapat diajukan di Parlemen. Tujuannya adalah untuk menghasilkan rancangan undang-undang yang sangat singkat dan terbatas yang akan memberikan May wewenang untuk menerapkan Pasal 50, namun akan sulit untuk diubah atau diubah. RUU yang diperkenalkan sebagian besar akan ditentukan oleh keputusan sebenarnya, yang mungkin menjelaskan persyaratan spesifik. Pemerintah telah menyusun beberapa rencana darurat untuk menangani pedoman yang mungkin diberlakukan oleh pengadilan. Misalnya, hakim mungkin mengatakan bahwa satu suara di Parlemen saja sudah cukup, atau hal ini mungkin memerlukan proses penyusunan undang-undang yang memakan waktu lebih lama.
Pemerintah kemungkinan akan bergerak cepat untuk memperkenalkan rancangan undang-undang dengan tujuan memenuhi tenggat waktu bulan Maret.
___
APAKAH KERUGIAN PEMERINTAH BERARTI BERAKHIRNYA BREXIT?
Sangat kecil kemungkinannya parlemen akan memberikan suara menentang usulan pemerintah, mengingat hasil referendum. Hal ini akan dilihat oleh para pendukung Brexit dan banyak yang menentangnya sebagai tindakan anti-demokrasi yang mengalahkan keinginan rakyat.
___
BAGAIMANA JIKA PEMERINTAH MENANG?
Pembatalan keputusan pengadilan yang lebih rendah akan memberi May wewenang untuk memulai negosiasi Pasal 50 jika dia memilihnya tanpa masukan dari Parlemen. Namun, dia mengatakan Parlemen akan diminta untuk menyetujui setiap kesepakatan Brexit yang dicapai pada akhir pembicaraan.
___
APAKAH HASILNYA YA ATAU TIDAK TERHADAP BANDING PEMERINTAH?
Tidak, pengucapannya bisa menjadi lebih rumit. Para hakim harus mempertimbangkan tawaran dari politisi Skotlandia, Welsh dan Irlandia Utara agar anggota parlemen mereka berperan dalam proses tersebut karena Pasal 50 akan secara signifikan mengubah kewenangan yang diberikan kepada mereka melalui devolusi. Keputusan mengenai hal tersebut dapat menunda proses tersebut, terutama karena Majelis Irlandia Utara akan segera dibubarkan, dengan pemilihan umum yang dijadwalkan pada tanggal 2 Maret. Parlemen Skotlandia juga menimbulkan masalah bagi pemerintah, karena didominasi oleh anggota parlemen yang ingin tetap berada di UE.