Remaja yang kesal dengan sexting tetap melakukannya
Banyak remaja yang mengatakan bahwa mereka kesal ketika diminta untuk melakukan “sex” foto telanjang diri mereka kepada remaja lain, namun hampir 30 persen tetap melakukannya.
Sebuah studi baru terhadap 948 anak berusia 14 hingga 19 tahun di Texas tenggara menemukan bahwa sexting adalah hal biasa di antara kelompok usia ini. Jumlah tersebut melampaui perkiraan lain mengenai sexting remaja. Studi ini juga menemukan bahwa para pelaku seks remaja lebih mungkin dilaporkan aktif secara seksual dibandingkan rekan-rekan mereka yang non-seksual, dan bahwa sexting dikaitkan dengan perilaku seksual berisiko, setidaknya di kalangan anak perempuan.
Sexting adalah praktik mengirimkan kata-kata atau gambar eksplisit melalui pesan teks. Ketika perangkat genggam semakin umum digunakan, semakin banyak remaja yang menggunakannya untuk melakukan sexting, namun jumlah pastinya sulit diketahui. Sebuah studi terhadap siswa sekolah swasta di Amerika Serikat bagian barat daya menemukan bahwa hampir 20 persen siswa SMA pernah mengirimkan gambar eksplisit melalui ponselnya. Dua kali lebih banyak yang menerima foto eksplisit melalui telepon seluler.
Pada tahun 2009, survei Pew Internet dan American Life mematok jumlah remaja yang melakukan sexting sekitar 15 persen (walaupun hanya 4 persen yang mengirimkan foto dirinya). Pada tahun 2011, sebuah penelitian nasional terhadap anak usia 10 hingga 18 tahun menemukan bahwa hanya sekitar 1 persen dari kelompok usia tersebut menciptakan gambar seksual eksplisit mereka sendiri. Ketika para peneliti memperluas pertanyaannya dengan memasukkan penerimaan gambar, jumlahnya melonjak menjadi 9,6 persen.
Tingkat sexting yang tinggi
Studi baru ini berfokus pada tujuh sekolah menengah di Texas. Dalam sampel ini, 28 persen remaja pernah mengirimkan foto telanjang dirinya secara elektronik. Tiga puluh satu persen meminta foto telanjang dikirimkan kepada mereka, dan 57 persen diminta.
“Sexting tampaknya merupakan versi modern dari ‘tunjukkan milikmu dan aku akan tunjukkan milikku’, namun prevalensi perilaku tersebut tidak membenarkan prevalensinya. Sebaliknya, kami menemukan bahwa remaja pada umumnya merasa terganggu ketika diminta untuk menjadi ke kirim foto telanjang,” kata penulis studi Jeff Temple, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di University of Texas Medical Branch di Galveston, dalam sebuah pernyataan. “Faktanya, hampir semua anak perempuan merasa terganggu jika ditanya, dan di antara anak laki-laki, lebih dari setengahnya merasa terganggu. . setidaknya sedikit.”
Remaja yang berhubungan seks lebih mungkin untuk melakukan aktivitas seksual yang sebenarnya, para peneliti melaporkan Senin (2 Juli) di jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine. Bagi gadis remaja, berkirim pesan merupakan tanda bahaya bagi perilaku seksual berisiko, seperti penggunaan narkoba atau alkohol sebelum berhubungan seks atau berganti-ganti pasangan. (10 Statistik Seks yang Mengejutkan)
Bisa jadi sexting dipandang sebagai hal yang normal dan positif bagi anak laki-laki, kata Temple. Anak perempuan yang berhubungan seks bisa menghadapi stigma sebagai pergaulan bebas atau pelacur, katanya, jadi mempertaruhkan reputasi mereka dengan mengirimkan pesan teks telanjang bisa menjadi tanda bahwa mereka bersedia mengambil risiko lain juga.
Karena seks remaja melibatkan pengiriman gambar seksual eksplisit terhadap anak di bawah umur, secara teknis tindakan tersebut dapat dituntut berdasarkan undang-undang pornografi anak. Temple mengatakan temuan timnya menunjukkan bahwa itu adalah ide yang buruk.
“Jika temuan kami diekstrapolasi secara nasional, beberapa juta remaja akan dituntut karena pornografi anak atau kejahatan seksual lainnya berdasarkan sebagian besar undang-undang yang ada,” katanya. “Melakukan hal ini tidak hanya akan menghukum pelanggaran yang dilakukan oleh remaja, namun juga meminimalkan keseriusan dan keseriusan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Sumber daya yang saat ini digunakan untuk mengkriminalisasi sexting remaja dapat dialihkan ke program pencegahan dan pendidikan yang berfokus pada pengurangan perilaku seksual berisiko di kalangan remaja.”
Ikuti Stephanie Pappas di Twitter @sipappas atau LiveScience @ilmu hidup. Kami juga aktif Facebook & Google+.