Terapi perilaku kognitif mengurangi rasa sakit
Sebagian besar orang dengan nyeri kronis bergantung pada obat pereda nyeri seperti opioid yang diresepkan untuk meredakan nyeri, namun seiring dengan meningkatnya penggunaan obat ini, insiden masalah serius juga meningkat, termasuk overdosis, kecanduan, dan komplikasi kesehatan.
Seringkali, obat pereda nyeri tidak meningkatkan kemampuan seseorang untuk berfungsi dengan baik (karena merasa terlalu mati rasa) atau kualitas hidup mereka, yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam mengobati nyeri.
Kebanyakan ahli nyeri menganjurkan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi nyeri, termasuk olahraga dan apa yang dikenal sebagai terapi perilaku kognitif (CBT).
CBT mencakup terapi bicara untuk mengubah cara Anda berpikir tentang rasa sakit, serta pendekatan perilaku yang mengurangi stres, meningkatkan kualitas tidur, dan mengelola kecemasan.
Kini, sebuah penelitian baru menemukan bahwa CBT secara signifikan lebih efektif dibandingkan pengobatan standar dalam mengobati orang yang menderita nyeri di seluruh tubuh, seperti penderita fibromyalgia. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam edisi Januari majalah tersebut Arsip Penyakit Dalam, 442 pasien dengan nyeri kronis di seluruh tubuh dibagi secara acak menjadi salah satu dari empat kelompok: satu kelompok menerima CBT melalui telepon; satu kelompok diminta berolahraga 20 hingga 60 menit sehari, setidaknya dua kali seminggu; satu menjalani CBT dan olahraga, dan kelompok kontrol melanjutkan perawatan apa pun yang mereka gunakan.
Pada kelompok yang melakukan kombinasi CBT dan intervensi olahraga, 37 persen melaporkan peningkatan kesejahteraan mereka secara umum setelah sembilan bulan, dibandingkan dengan hanya delapan persen pada kelompok kontrol. Sekitar 33 persen dari mereka yang hanya menerima CBT melaporkan adanya peningkatan dan 24 persen dari mereka yang hanya berolahraga melaporkan adanya peningkatan.
CBT membahas faktor-faktor yang membantu mengurangi rasa sakit dan membantu pasien mengatasi gejala nyeri. Ini adalah terapi jangka pendek yang dapat berlangsung sedikitnya delapan hingga 10 sesi. Ini mencakup serangkaian pendekatan termasuk:
• Aktivasi perilaku. Tujuan utamanya adalah meningkatkan tingkat aktivitas Anda dengan berpartisipasi dalam aktivitas positif dan bermanfaat. Penderita nyeri cenderung menghindari aktivitas karena takut, cemas, atau depresi.
• Restrukturisasi kognitif. Pendekatan ini membantu orang mengidentifikasi pola pikir yang tidak membantu dan pikiran negatif, dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih konstruktif. Jadi, jika seseorang mengatakan pada dirinya sendiri, “Saya tidak akan pernah menjadi lebih baik,” seorang terapis dapat mencoba membuatnya berhenti membuat situasi menjadi buruk dan mengambil pendekatan yang lebih hari demi hari. Jika Anda menunjukkan tanda-tanda depresi, Anda mungkin akan dirujuk ke dokter untuk mendapatkan resep antidepresan. Banyak orang dengan nyeri kronis menderita depresi dan depresi diketahui membuat nyerinya semakin parah.
• Perubahan gaya hidup. Terapis bekerja bersama Anda untuk membantu meningkatkan kualitas tidur Anda (kelelahan memperburuk rasa sakit) dan mengajari Anda teknik relaksasi, yang mungkin termasuk pernapasan dalam, meditasi, atau bahkan biofeedback. Anda juga akan memeriksa pola makan dan kebiasaan olahraga Anda. Berolahraga, meskipun sulit saat Anda kesakitan, adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi rasa sakit Anda.